DONGGALA, SultengDaily.com — Pemerintah Kabupaten Donggala terus memacu upaya penurunan angka stunting dengan target ambisius: turun menjadi 18,8 persen di akhir tahun 2025. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen daerah dalam mempercepat terwujudnya generasi sehat dan bebas stunting.
Sekretaris Daerah Kabupaten Donggala, Rustam Effendi, menyampaikan bahwa saat ini Donggala masih menempati posisi ketiga tertinggi angka stunting di Sulawesi Tengah, setelah Kabupaten Buol dan Sigi.
“Kasus stunting di Kabupaten Donggala pada tahun 2024 tercatat sebesar 29,9 persen. Ini menjadi perhatian serius kami,” ujar Rustam kepada SultengDaily.com, Senin (3/11/2025).
Menurutnya, penanganan stunting tidak bisa dilakukan secara parsial. Ia menilai perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap koordinasi lintas sektor, anggaran, dan akurasi data agar program di lapangan benar-benar berdampak pada masyarakat.
“Ke depan harus ada perbaikan tata kelola, sinergi, dan komitmen. Tantangan kita masih pada koordinasi, pendanaan, serta konsistensi pelaksanaan program,” jelas Rustam.
Rustam juga menyoroti sejumlah faktor penyebab utama stunting yang masih dihadapi di Donggala, antara lain rendahnya pemberian ASI eksklusif, minimnya konsumsi tablet tambah darah bagi ibu hamil dan remaja putri, serta belum optimalnya cakupan imunisasi dan pemantauan tumbuh kembang anak.
Untuk memperkuat langkah nyata, pemerintah mendorong partisipasi seluruh elemen dari kabupaten hingga desa — agar program intervensi benar-benar menjangkau kelompok sasaran seperti calon pengantin, ibu hamil, dan anak usia di bawah dua tahun.
Sebagai bentuk inovasi sosial, Rustam bahkan mengusulkan agar setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dapat menjadi “orang tua asuh” bagi satu anak stunting.
“Kalau setiap OPD bisa menjadi orang tua asuh untuk satu anak, ini bentuk kepedulian nyata kita bersama dalam menurunkan angka stunting,” tegasnya.
Berdasarkan data Pemkab Donggala, angka stunting di daerah itu telah menunjukkan tren positif, menurun dari 34,1 persen pada tahun 2023 menjadi 29,6 persen di tahun 2024. Meski demikian, Rustam menekankan bahwa kerja keras tidak boleh berhenti sampai di situ.
“Dengan sinergi lintas sektor dan dukungan masyarakat, kita optimistis target 18,8 persen di tahun 2025 bisa dicapai,” pungkasnya.












